
KabarIndonesia -Oleh : Hilmy Bramantyo | 17-Jan-2010, 22:00:28 WIB
Kericuhan kembali terjadi di tanah air ini. Kericuhan memang sudah biasa menghiasi layar televisi Indonesia belakangan ini, mulai dari kericuhan di pengdilan, di lapangan sepakbola, di desa yang sedang konflik, di konser musik, dan sebagainnya. Namun ada berita yang unik yaitu terjadinya kericuhan pada audisi Indonesian Idol di Medan. Mengapa hal ini menarik? Membludaknya pemuda-pemudi yang ingin ikut audisi Indonesia Idol menunjukkan bahwa generasi muda saat ini sudah tidak lagi mementingkan proses menuju kesuksesan, namun mereka lebih tertarik untuk meretas jalan pintas menuju kesuksesan. Apakah hanya itu saja fenomena menariknya?
Fenomena ini juga menunjukkan kegagalan pemerintah untuk menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai bagi lulusan sarjana maupun sekolah menengah atas (SMA). Padahal lulusan sarjana di Indonesia bukannya semakin menurun malahan semakin meningkat tiap tahunnya, dan jumlah tenaga kerja yang berasal dari lulusan S1 hanya sebesar 6,58% dari sekitar 100 juta-an angkatan kerja. Begitu pula dengan jumlah tenaga kerja yang notabene lulusan SMA sebesar 20,6% dari total angkatan kerja (berdasarkan data BPS terakhir pada tahun 2008). Jika hal demikian terjadi terus-menerus, maka dikhawatirkan tenaga kerja baik lulusan perguruan tinggi maupun SMA akan sia-sia hanya karena adanya ketidaksinambungan antara sistem pendidikan dan kebutuhan tenaga kerja di perusahaan-perusahaan.
Audisi untuk menjadi bintang di Indonesia memang banyak, Indonesian Idol hanyalah salah satu diantara acara pencarian bakat di Indonesia. Tawaran yang dijanjikan oleh acara tersebut memang akan menarik bagi siapa saja, khususnya lulusan SMA maupun perguruan tinggi yang frustasi karena belum mendapat pekerjaan yang layak untuk menghidupi diri sendiri atau membantu meringankan beban ekonomi keluarga. Apalagi acara pencarian bakat tersebut tidak hanya menjanjikan keternaran tetapi juga uang dalam jumlah besar.
Namun sebagaimana halnya sebuah proses yang instan, maka produk yang dihasilkan juga hanya berupa produk karbitan. Produk yang tidak matang atau dipaksakan supaya matang sebelum waktunya. Tidak jarang bintang-bintang yang muncul dari acara pencarian bakat semacam Indonesian Idol akan tenar dalam waktu singkat namun segera tenggelam juga dalam waktu singkat. Bahkan marak pula pemberitaan mengenai modus penipuan berupa pemerasan uang oleh agen yang mengaku-ngaku sebagai pencari bakat.
Audisi di Medan masih merupakan awal dari serangkaian audisi di kota-kota besar Indonesia. Jadi, berita kericuhan akibat desakan antrian audisi mungkin masih akan mewarnai layar pertelevisian Indonesia di waktu-waktu yang akan datang. Setiap kali melihat audisi tersebut, seharusnya pemerintah patut bercermin, betapa masih buruknya penyerapan tenaga kerja di Indonesia hingga ribuan pemuda rela mengantri demi menjadi tenar dalam waktu singkat. Jika demikian, bagaimana Indonesia mau bersaing dengan negara-negara lain? (*)